Yang
telah terdampar dari hunusan desah, meluaplah!
jejak-jejak yang tertinggal kemarin sore masih membekas dalam getiran bayang
bulan
melalui geraian angin setapak langkah memberikan isyarat bayang-bayang sendu
melalui geraian angin setapak langkah memberikan isyarat bayang-bayang sendu
yang melumat ukiran awan dan kemudian mengembun.
Ada
bahasa alam yang menyampaikan suatu pagi yang nantinya berselimutkan kalbu
dan
melapisi kesejukan cahya sebagai nafas kerinduan.
Pada
geladak yang sesekali mancuri suara derikan, mulai membuka sejarah
ketika
anak-anak kaki berlarian mencari pintu demi sepenggal cahaya
yang menyela dari
lobang atap yang meratap. Meskipun segelintir ruang untuk benafas,
tetapi
inilah rindu sama seperti anak-anak itu yang masih berlarian mencari nadinya
yang tergambar sebuah warna dari wajahnya.
Seperti
senandung mimpi, hanyalah tengadah kepada-Nya memberikan ritme waktu
akan
genggaman semakin erat dan segelintir peradaban berunut dengan kisah lebih
cerah.
Sebutir
masa ialah penafsiran yang selaras dengan pembulatan nada,
beralun merdu
ketika pilar berdiri melalui sebuah genggaman,
pun rahasia alam mulai membuka
kerimbunan yang penuh dengan deretan embun mengembang,
menerka, atau bahkan
merasuk ke dalam jejak-jejak yang terukir karena muasal telah tertimbun
oleh
fajar.
Hanya
sebutir masa yang menjadi doa,
ketika kedipan mata membuka terik matahari menjadi
awan baru
yang penuh dengan lukisan baru dan nafas yang menggebu.
Sebutir masa
bukan massa lalu tetapi cahya perindu.
Palembang | Desember 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar